Setiap tahun ribuan mahasiswa lulus dengan harapan bisa segera bekerja, tapi kenyataannya banyak yang justru terjebak jadi pengangguran terdidik. Di tengah situasi ini, muncul wacana menutup program studi yang dianggap tidak relevan. Pertanyaannya, apakah benar langkah ini bisa menghapus masalah pengangguran, atau justru menambah persoalan baru yang lebih rumit?
Menutup prodi tidak otomatis membuat angka pengangguran terdidik berkurang. Justru, langkah ini bisa menimbulkan masalah baru bagi mahasiswa yang sedang menempuh studi maupun dosen yang mengajar. Pendidikan tinggi seharusnya jadi ruang untuk mengembangkan potensi manusia secara luas, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar kerja sesaat. Dunia kerja terus berubah, dan kebutuhan hari ini belum tentu sama dengan kebutuhan di masa depan.
Baca juga: Pangkas Prodi: Solusi Kilat Pendidikan atau Ancaman Keberagaman Ilmu?
Yang lebih dibutuhkan bukan memangkas pilihan studi, tapi membenahi isi dan cara belajar di kampus. Kurikulum harus diperbarui secara berkala supaya sesuai dengan perkembangan zaman. Mahasiswa juga perlu dibekali keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, dan fleksibilitas menghadapi perubahan. Dengan bekal seperti itu, lulusan tidak hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan, tapi bisa menciptakan peluangnya sendiri di tengah dunia kerja yang terus berubah.
Selain pembenahan di kampus, pemerintah punya peran besar dalam mengurangi pengangguran terdidik. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan sumber daya yang melimpah seharusnya mampu menciptakan lebih banyak peluang ekonomi. Jika lapangan kerja diperluas, lulusan dari berbagai bidang pun akan punya ruang untuk berkontribusi. Tanpa dukungan kebijakan yang membuka kesempatan kerja, penutupan prodi hanya akan jadi solusi semu yang tidak menyentuh akar masalah.
Menutup prodi bukan hanya soal angka di statistik, tapi juga menyangkut nasib banyak orang. Dosen dan tenaga kependidikan bisa kehilangan pekerjaan, mahasiswa yang sedang menempuh studi akan terguncang, dan keberagaman ilmu di kampus bisa tergerus. Dampaknya bukan sekadar pada sistem pendidikan, tapi juga merembet ke kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Kebijakan yang terburu-buru justru berisiko menimbulkan masalah baru yang lebih besar daripada masalah yang ingin diselesaikan.
Menutup prodi mungkin terlihat seperti jalan cepat, tapi kenyataannya tidak akan menghapus masalah pengangguran terdidik. Solusi sejati ada pada pembenahan kurikulum, peningkatan kualitas pendidikan, dan kebijakan pemerintah yang membuka lebih banyak peluang kerja. Pendidikan bukan sekadar soal menyesuaikan diri dengan pasar, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang tangguh. Karena itu, langkah yang bijak bukan mengurangi pilihan studi, melainkan memperluas kesempatan bagi setiap lulusan untuk berkembang dan berkontribusi.
Oleh: Dr. Anang Martoyo
Di tengah derasnya arus informasi digital, Generasi Z kerap dipersepsikan memiliki minat baca yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Kehadir...
Perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara banyak orang belajar pemrograman. Kini menulis kode tidak selalu harus dimulai dari nol karena berb...