Keputusan memproduksi sebuah film selalu mengandung risiko besar. Biaya sudah keluar jauh sebelum diketahui apakah penonton akan datang ke bioskop.
Untuk menekan risiko tersebut, sebagian pelaku industri mulai memanfaatkan data. Pendekatan ini banyak dipakai pada film horor Indonesia yang jumlah produksinya cukup padat setiap tahun.
Meskipun demikian, data tidak dipakai untuk memastikan hasil, melainkan untuk memperkecil kemungkinan salah langkah.
Sumber pertama berasal dari perilaku penonton di layanan tayang berlangganan. Pola tontonan di sana menunjukkan jenis cerita dan tema yang sedang banyak dicari.
Sumber kedua berasal dari percakapan media sosial, mulai dari respons terhadap cuplikan sampai perbincangan seputar cerita rakyat tertentu.
Sumber ketiga berupa catatan penjualan tiket film sejenis pada periode sebelumnya. Gabungan ketiganya memberi gambaran awal tentang peluang sebuah film horor Indonesia menarik perhatian pasar.
Ketiga sumber tersebut memiliki keterbatasan masing-masing, sehingga kesimpulan yang diambil dari satu sumber saja umumnya kurang dapat diandalkan.
Baca juga: Chord Lagu Sederhana Bisa Jadi Metafora Kerja Tim yang Solid, Ini Kaitannya dengan Dunia Startup
Empat pendekatan berikut termasuk yang paling umum dijumpai.
Penambangan data dari percakapan daring membantu mengenali tema yang perhatiannya sedang meningkat. Tema tersebut kemudian dibandingkan dengan judul yang sudah pernah diproduksi sebelumnya. Pendekatan ini membantu menghindari pengulangan gagasan yang pasarnya sudah terlanjur jenuh.
Data penjualan tiket film sejenis dipakai menyusun perkiraan kasar jumlah penonton. Faktor seperti jadwal tayang, jumlah layar, dan besarnya promosi ikut diperhitungkan dalam model tersebut. Perkiraan semacam ini membantu menentukan anggaran yang masuk akal sejak tahap awal perencanaan.
Beberapa versi cuplikan dapat diuji lebih dulu ke kelompok penonton kecil melalui iklan berbayar. Respons yang terkumpul menunjukkan pendekatan mana yang paling menarik perhatian. Cara ini memungkinkan perbaikan dilakukan sebelum anggaran promosi terbesar benar-benar dikeluarkan.
Periode tayang berpengaruh besar pada hasil akhir, terutama bila berbenturan dengan judul lain yang sasarannya mirip. Data musiman membantu menemukan celah waktu yang lebih lapang. Keputusan sederhana semacam ini sering kali berpengaruh besar pada perolehan jumlah penonton.
Data hanya menggambarkan apa yang sudah terjadi. Selera penonton dapat berubah cepat dan cerita yang benar-benar baru sering kali tidak punya pembanding sama sekali.
Karena itu, banyak keberhasilan besar justru datang dari gagasan yang tidak terbaca dari data awal. Peran penilaian manusia tetap tidak tergantikan.
Padahal, kombinasi keduanya biasanya memberi hasil paling seimbang, yakni gagasan kreatif yang keputusannya ditopang bukti.
Kebutuhan atas orang yang bisa mengolah data penonton terus bertambah, baik di rumah produksi maupun di layanan tayang berlangganan.
Pekerjaannya mencakup penyusunan laporan tren, perancangan pengujian promosi, sampai pembacaan hasil kampanye iklan menjelang tayang.
Selain itu, kemampuan menerjemahkan angka menjadi rekomendasi yang bisa dipahami tim kreatif juga sangat dihargai. Dalam banyak kasus, hambatan terbesar bukan pada ketersediaan data, melainkan pada cara menyampaikannya agar benar-benar dipakai saat keputusan diambil.
Bentuk penyampaian yang paling sering berhasil biasanya sederhana, misalnya satu halaman berisi temuan utama beserta pilihan tindakan yang bisa diambil. Tabel panjang tanpa kesimpulan umumnya jarang dibaca sampai selesai.
Selain itu, penyampaian sebaiknya jujur mengenai tingkat ketidakpastiannya. Perkiraan jumlah penonton yang disampaikan sebagai angka pasti berisiko menimbulkan kekecewaan bila kenyataannya meleset.
Kejujuran semacam itu justru membangun kepercayaan dalam jangka panjang, sebab tim kreatif menjadi tahu sejauh mana angka tersebut layak dijadikan dasar keputusan.
Kemampuan membaca data pasar kini dibutuhkan hampir di semua industri, termasuk industri hiburan. Keterampilan tersebut menggabungkan pemahaman teknologi dan pemahaman bisnis sekaligus.
Cyber University (CU) dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang dipertimbangkan untuk kebutuhan itu. Kampus ini merupakan universitas financial technology pertama di Indonesia dengan konsep Company Learning Program (CLP), yaitu tiga tahun kuliah dan satu tahun magang.
Program studinya meliputi Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Sistem dan Teknologi Informasi, Bisnis Digital, serta Kewirausahaan. Bagi anda yang tertarik pada pengambilan keputusan berbasis data di industri kreatif, jalur ini layak masuk daftar pertimbangan.
Kecerdasan buatan (AI) semakin memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu profesi yang muncul sebagai hasil dari perkembangan tek...
Bagi mahasiswa atau lulusan baru yang akan memasuki dunia kerja, memahami struktur organisasi dan jenjang jabatan di sebuah perusahaan adalah pemahama...