PKKMB Cyber University: Dari Buku Kosong Menjadi Kanvas Kreativitas Mahasiswa Baru

research
  • 29 Sep
  • 2025

PKKMB Cyber University: Dari Buku Kosong Menjadi Kanvas Kreativitas Mahasiswa Baru

“Menjadi mahasiswa baru itu ibarat membuka lembaran buku kosong. Kita bebas mengisinya dengan cerita biasa, atau menuliskan kisah yang layak dibaca banyak orang.” Kalimat itu terngiang di kepala saya pada hari pertama PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru) di Cyber University. Saya datang dengan latar yang berbeda. Saya pernah gap year. Saya pernah belajar di pesantren tahfidz leadership. Saya ditempa disiplin, kesabaran, dan ketekunan. Kini saya melangkah ke dunia kampus dengan satu tekad: menjadi seorang ecopreneur agribisnis digital. 

Bagi sebagian orang, PKKMB hanyalah sebuah formalitas dan ajang seremonial untuk mengenal dosen, aturan, tempat dan lokasi gedung-gedung Nya. Ada juga yang mengingatnya sebagai masa senioritas atau bahkan perpeloncoan. Tapi di Cyber University, saya menemukan pengalaman yang menunjukkan bahwa PKKMB lebih dari itu: ia adalah panggung pertama bagi mahasiswa baru untuk mengasah kreativitas, mengekspresikan diri, menampilkan warna diri, menunjukkan identitasnya di hadapan orang lain dan menegaskan: “Saya hadir. Saya punya ide. Saya siap berkarya.”

Baca juga: MAGNA & SINERGI Sebagai Pintu Masuk Maba Jadi Bagian Keluarga Kampus

Saya percaya, kreativitas bukan sekadar bakat. Kreativitas adalah kemampuan mengolah pengalaman dan nilai, lalu melahirkannya dalam bentuk manfaat. PKKMB menjadi laboratorium kecil untuk melatih itu. Saya masih mengingat jelas satu momen sederhana, yaitu tantangan membuat yel-yel. Sekilas hal ini tampak sepele, tetapi dari situ saya menyaksikan betapa cepatnya ide-ide segar bermunculan. Ada yang melontarkan kata-kata jenaka, ada yang secara spontan menciptakan gerakan lucu, dan ada pula yang mengatur ritme agar semua kompak. Dalam hitungan menit, kelompok yang awalnya canggung berubah menjadi kompak, dari suasana asing menjadi lebih akrab. Dari situ saya sadar: kreativitas tidak selalu lahir dari hal besar. Ia justru muncul di ruang kecil. Di sela teriakan, tawa, dan kerjasama spontan. PKKMB menjadi laboratorium kreatif dan menandakan satu hal: kampus adalah arena ekspresi gagasan. 

Latar belakang pesantren memberi saya cara pandang unik. Saya belajar bahwa kreativitas tak selalu berarti “sesuatu yang benar-benar baru.” Kreativitas bisa lahir dari cara menghubungkan nilai-nilai lama dengan kebutuhan masa kini. Saat diminta memberi ide kelompok, saya menawarkan pengalaman yang pernah saya dapatkan selama di pesantren. Namun bedanya, saya padukan dengan ide-ide cemerlang dari teman-teman saya. Teman menyambutnya antusias. Saya merasa terbantu dan begitupun mereka juga merasa terbantu. Dari sini saya sadar: kreativitas justru tumbuh saat ide lama dipadukan dengan ide baru. 

Namun, kreativitas tidak akan berarti tanpa keberanian mengeksekusi. Banyak mahasiswa baru sempat ragu. Saya juga. “Apakah ide saya cukup bagus? Apakah layak didengar?” Tapi suasana PKKMB Cyber University yang cair membuat keraguan itu larut. Tidak ada tekanan senioritas. Tidak ada rasa takut. Hanya ruang untuk mencoba. Bahkan ruang untuk gagal. Dan dari kegagalan itulah kreativitas bisa tumbuh.

Baca juga: Transisi Mahasiswa Baru Tanpa Sikap Senioritas di Cyber University

Kalau melihat lebih luas, kreativitas mahasiswa baru punya arti strategis. Data Global Innovation Index (2023) menunjukkan Indonesia masih tertinggal dari negara Asia lain soal inovasi. Salah satu sebabnya: budaya eksplorasi tidak dilatih sejak awal. Di titik ini, PKKMB bisa berperan sebagai fondasi. Fondasi yang menumbuhkan budaya berani bereksperimen, bahkan sejak hari pertama jadi mahasiswa. 

Sebagai calon ecopreneur agribisnis digital yang merupakan cita-cita saya, saya memandang PKKMB bukan hanya tempat belajar budaya kampus. Ia adalah pintu masuk membangun jejaring. Dunia agribisnis kini ditantang isu besar: krisis iklim, ketahanan pangan, hingga kompetisi global. Semua itu butuh kolaborasi lintas ilmu. Lewat PKKMB, saya mengenal teman-teman dari berbagai prodi. Ada yang dari bisnis digital. Ada yang dari sistem informasi. Ada yang dari sistem teknologi dan informasi. Bayangkan bila jejaring ini bersatu. Kreativitas kita tidak hanya mengubah kampus, tapi juga memberi dampak ke masyarakat. 

Namun, ada satu catatan penting: kreativitas harus berkelanjutan. Ia tidak boleh berhenti setelah PKKMB selesai. Karena itu, saya berharap ada wadah lanjutan: inkubator ide, mentoring, bahkan kompetisi internal. Dengan begitu, gagasan mahasiswa baru bisa tumbuh, bukannya hilang.Kreativitas tidak hanya jadi kenangan masa orientasi, tapi budaya nyata kampus.

Baca juga: Menjadi Bagian dari Keluarga Cyberian Melalui Magna – Sinergi (PKKMB)

Menutup tulisan ini, saya ingin kembali ke buku kosong bernama “mahasiswa baru.” PKKMB di Cyber University telah mengajarkan saya menulis halaman pertama dengan penuh warna. Dari situ saya paham: kreativitas adalah napas utama mahasiswa. Ia lahir dari keberanian mengekspresikan diri, keberanian untuk gagal, dan kemauan menghubungkan tradisi dengan kebutuhan baru. 

Saya percaya, jika setiap mahasiswa baru menyalakan kreativitasnya sejak PKKMB bahkan seterusnya, maka Cyber University tidak hanya melahirkan lulusan biasa. Kampus ini akan melahirkan generasi pembaru. Generasi yang berani menjadi ecopreneur digital, inovator sosial, sekaligus penjaga keberlanjutan bangsa.

Penulis: Akram Amanullah, Prodi Digital Entrepreneur