Jakarta – Pesatnya perkembangan teknologi informasi yang tidak diimbangi dengan kontrol diri dinilai berpotensi menurunkan kualitas kinerja serta konsentrasi masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Teknologi Informasi Cyber University, Diky Wardhani, menyoroti pentingnya membangun kebiasaan digital yang sehat agar teknologi tidak menggeser posisi manusia sebagai pengendali utama.
Kemudahan yang ditawarkan teknologi saat ini memang memberikan kepraktisan dalam berkomunikasi, bekerja, hingga memenuhi kebutuhan harian. Namun, di balik efisiensi tersebut, muncul tantangan baru berupa ketergantungan digital yang berlebihan. Kebiasaan masyarakat yang merasa cemas ketika jauh dari ponsel hingga kesulitan fokus tanpa akses internet menjadi indikasi bahwa teknologi mulai memengaruhi gaya hidup modern.
Dosen Teknologi Informasi Cyber University, Diky Wardhani, menjelaskan bahwa salah satu dampak paling nyata dari penggunaan teknologi yang tidak terkontrol adalah menurunnya produktivitas dan kedalaman fokus (deep work), baik di lingkungan kerja maupun akademik.
"Notifikasi yang terus-menerus muncul, dorongan untuk selalu 'terhubung', serta kebiasaan multitasking membuat banyak orang sulit berkonsentrasi secara mendalam. Alih-alih meningkatkan efisiensi, penggunaan teknologi yang tidak terkontrol justru dapat menurunkan kualitas pekerjaan dan pembelajaran," ujar Diky Wardhani dalam keterangannya, Rabu (23/07).
Selain berdampak pada produktivitas, Diky Wardhani menyebutkan bahwa ketergantungan digital juga membawa risiko terhadap kesehatan fisik dan psikologis, seperti gaya hidup pasif (sedentary lifestyle), gangguan tidur akibat paparan layar, hingga kecemasan akibat pencarian validasi di dunia maya. Dari aspek sosial dan etika, interaksi virtual secara perlahan mengikis kedekatan emosional tatap muka, sementara kemudahan akses informasi tanpa literasi kritis rentan memicu penyebaran hoaks serta pelanggaran privasi.
Baca juga: Mahasiswa Beasiswa KIP Cyber University Ikuti Penguatan Prestasi dan Karier dari LLDIKTI
Menanggapi hal tersebut, Diky Wardhani menekankan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Baik atau buruknya dampak teknologi sangat bergantung pada cara manusia memanfaatkannya. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengambil langkah konkret dengan membatasi waktu penggunaan perangkat (screen time), memperkuat interaksi langsung, serta terus mengasah literasi digital yang kritis.
Ia berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam memosisikan teknologi dalam kehidupan harian agar tetap memegang kendali penuh di tengah derasnya arus digitalisasi.
"Tantangan terbesar di era digital bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang lebih canggih, melainkan bagaimana menjaga agar manusia tetap menjadi pengendali utama. Penting untuk menempatkan teknologi sebagai alat yang mendukung kehidupan, bukan sebagai pusat kehidupan itu sendiri," tutup Diky Wardhani.
BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...
Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...