Permintaan matcha melonjak dalam beberapa tahun terakhir, tidak hanya di negara asalnya. Kedai minuman di banyak kota kini hampir selalu menyediakan menu berbahan dasar bubuk hijau ini.
Lonjakan tersebut membuat pertanyaan matcha terbuat dari apa menjadi relevan bukan hanya bagi penikmatnya, melainkan juga bagi pelaku usaha.
Alasannya sederhana, sebab proses pembuatannya menentukan panjang rantai pasok dan tingkat kerumitan penyediaannya.
Bahan dasarnya berupa daun teh jenis tencha yang dinaungi beberapa minggu sebelum panen. Perlakuan tersebut menuntut perencanaan sejak masa tanam, bukan sekadar saat pengolahan.
Setelah dipanen, daun dikukus, dikeringkan, dipisahkan dari tulang dan tangkainya, lalu digiling perlahan menjadi bubuk sangat halus. Tahap penggilingan berjalan lambat agar panas tidak merusak aroma.
Rangkaian tahapan itu membuat pasokan tidak bisa langsung ditambah begitu permintaan naik. Kondisi inilah yang membuat rantai pasoknya menarik dijadikan bahan pelajaran.
Bagi pelaku usaha minuman, pemahaman semacam ini membantu menyusun perkiraan biaya yang lebih realistis sebelum menu baru diluncurkan.
Empat poin berikut menggambarkan hal yang bisa dipetik pelaku usaha dari komoditas ini.
Beberapa jenis produk memiliki batas produksi yang ditentukan sejak awal proses. Menaikkan jumlah pasokan pada produk semacam ini tidak bisa dilakukan dalam hitungan minggu. Memahami jawaban dari pertanyaan matcha terbuat dari apa membantu pelaku usaha menyadari kenapa harga bahan baku tertentu bisa bergerak cepat.
Selisih harga antara daun mentah dan bubuk siap pakai cukup besar. Selisih tersebut lahir dari proses pengolahan yang menuntut ketelitian dan waktu yang tidak sedikit. Pola serupa berlaku pada banyak usaha digital, tempat nilai terbesar biasanya berada pada tahap pengolahan data atau perancangan pengalaman pengguna.
Banyak pembeli kini ingin mengetahui asal bahan yang dikonsumsinya. Kemampuan menunjukkan asal usul produk secara terbuka dapat menjadi pembeda di pasar yang sudah ramai. Sistem pencatatan digital mempermudah hal tersebut sekaligus membuka peluang usaha baru di bidang penelusuran rantai pasok.
Tren minuman bergerak cepat dan sering dipicu perbincangan di media sosial. Usaha yang mampu membaca tanda kenaikan permintaan lebih awal dapat mengunci pasokan sebelum harganya naik. Kemampuan membaca pola permintaan semacam ini menjadi salah satu keterampilan penting dalam bisnis digital.
Belajar strategi bisnis tidak selalu harus dimulai dari perusahaan besar. Komoditas sehari-hari sering kali menyediakan gambaran yang jauh lebih mudah dicerna.
Sering kali, memahami satu rantai pasok secara utuh memberi pemahaman yang lebih tahan lama dibanding menghafal banyak istilah. Prosesnya melatih kebiasaan menelusuri sebab akibat dari hulu sampai hilir.
Kebiasaan itu pula yang dibutuhkan saat merancang model usaha sendiri di kemudian hari.
Setiap rantai pasok yang rumit selalu menyisakan celah yang bisa diisi pelaku usaha baru. Celah tersebut umumnya berada pada bagian yang paling merepotkan pembeli.
Salah satunya berupa penyediaan dalam kemasan kecil untuk kedai berskala rumahan. Banyak usaha kecil kesulitan membeli dalam jumlah besar meski kebutuhannya rutin.
Peluang lain terletak pada penyediaan informasi. Panduan penyimpanan, takaran, sampai perbandingan mutu antarpemasok memiliki nilai tersendiri bagi pemilik kedai yang baru memulai.
Selain itu, pencatatan pesanan dan perkiraan kebutuhan bulanan juga bisa dijadikan layanan digital sederhana. Dalam banyak kasus, usaha semacam ini justru lahir dari pengamatan atas persoalan sehari-hari, bukan dari gagasan besar yang rumit.
Modal awalnya pun umumnya tidak besar, sebab yang dijual berupa kemudahan dan bukan barang dalam jumlah banyak. Yang dibutuhkan justru pemahaman atas kebiasaan pembeli serta kemauan mengamati bagian mana dari proses yang paling sering dikeluhkan.
Karena itu, mencari peluang usaha sebaiknya dimulai dari komoditas yang benar-benar dikenal sehari-hari, bukan dari bidang yang hanya terdengar menjanjikan.
Cyber University (CU) dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang dipertimbangkan bagi yang ingin mendalami sisi bisnis dari teknologi. Kampus ini merupakan universitas financial technology pertama di Indonesia.
Skema Company Learning Program (CLP) berupa tiga tahun kuliah dan satu tahun magang memberi kesempatan mengamati langsung bagaimana sebuah usaha mengelola prosesnya.
Program studi yang tersedia meliputi Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Sistem dan Teknologi Informasi, Bisnis Digital, serta Kewirausahaan. Bagi anda yang tertarik pada inovasi rantai pasok dan bisnis digital, jalur ini layak masuk daftar pertimbangan.
BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...
Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...