Jakarta - Teknologi komputasi kuantum kini mulai beranjak dari ruang penelitian laboratorium menuju aplikasi praktis di berbagai industri global di tahun 2026. Perkembangan ini menandai babak baru kolaborasi sistem komputasi hibrida demi memecahkan masalah rumit dengan lebih cepat dan efisien.
Berbeda dengan komputer klasik yang menggunakan sistem bit biner 0 atau 1, komputer kuantum memanfaatkan qubit yang berada dalam kondisi superposisi. Kemampuan ini membuat pemrosesan data untuk simulasi molekul, optimalisasi logistik, hingga analisis keuangan berjalan secara paralel dengan kecepatan eksponensial.
Baca juga: Mahasiswa Cyber University Bangun API Gateway di Bursa Berjangka Jakarta
Hingga tahun ini, nilai pasar global komputasi kuantum dilaporkan telah menembus angka 10 miliar dollar AS. Raksasa teknologi dunia terus berlomba meningkatkan jumlah qubit sekaligus menekan tingkat kesalahan data (error rate) agar teknologi ini semakin stabil untuk digunakan.
Melihat cepatnya laju tren global tersebut, akademisi di Indonesia mengingatkan pentingnya penyiapan infrastruktur serta talenta digital sejak dini. Langkah antisipatif ini dinilai krusial agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi teknologi informasi ini.
Dosen Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi Cyber University (Universitas Siber Indonesia), Dedi Dwi Saputra, menilai bahwa pengenalan dasar komputasi kuantum harus segera diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi. Langkah ini penting untuk menyiapkan lulusan yang siap menghadapi perubahan peta teknologi global.
"Teknologi ini bukan lagi sekadar mimpi masa depan, melainkan alat nyata yang mulai memberikan nilai tambah di berbagai sektor industri. Kami berkomitmen menyiapkan talenta yang tidak hanya mahir pemrograman konvensional, tetapi juga siap menyongsong era kuantum," ujar Dedi saat dihubungi di Jakarta, Senin (20/7).
Meski menawarkan potensi yang luar biasa, teknologi komputasi kuantum juga membawa tantangan besar di bidang keamanan siber. Kemampuannya dalam memproses data dengan sangat cepat berpotensi memecahkan sistem enkripsi data yang digunakan saat ini.
Baca juga: Alih-Alih Tutup Prodi, Akademisi Dorong Reformasi Kurikulum dan Lapangan Kerja
Oleh karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri mutlak diperlukan untuk merumuskan peta jalan nasional komputasi kuantum.
"Langkah terintegrasi ini diharapkan mampu memperkuat daya saing sekaligus menjaga kedaulatan keamanan digital bangsa di masa depan," jelasnya.
BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...
Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...