Jakarta – Pesatnya perkembangan teknologi informasi dinilai telah mengubah pola pembelajaran Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) di perguruan tinggi dari sekadar teori menjadi pembelajaran modern berbasis praktik nyata. Menanggapi transformasi tersebut, Dosen Teknologi Informasi Cyber University (Universitas Siber Indonesia), Rika Astuti, S.Kom., M.Kom., menyoroti pentingnya penerapan Project Based Learning serta integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mempersiapkan mahasiswa agar siap bersaing di dunia kerja.
Perkembangan teknologi rekayasa perangkat lunak saat ini membawa perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada proses pembelajaran di Program Studi Teknologi Informasi. Jika sebelumnya pembelajaran hanya berfokus pada teori pemrograman dan praktik sederhana, kini mahasiswa dapat mempelajari pengembangan perangkat lunak secara lebih modern melalui berbagai platform digital, simulasi proyek nyata, dan kolaborasi daring. Hal tersebut membuat proses belajar menjadi lebih interaktif, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Dosen Teknologi Informasi Cyber University, Rika Astuti, S.Kom., M.Kom., menjelaskan bahwa salah satu transformasi utama dalam pembelajaran rekayasa perangkat lunak adalah pemanfaatan Learning Management System (LMS) serta teknologi kecerdasan buatan (AI).
"Teknologi AI kini mulai dimanfaatkan dalam pembelajaran rekayasa perangkat lunak untuk membantu mahasiswa memahami coding melalui fitur auto-complete, debugging otomatis, hingga saran penulisan program. Dengan teknologi ini, mahasiswa pemula lebih cepat memahami logika pemrograman dan mampu menyelesaikan tugas pengembangan aplikasi dengan lebih baik," ujar Rika dalam keterangannya, Kamis (30/7).
Baca juga: Berawal dari Kampus, Startup Gipsy Research Kembangkan Layanan Riset Berbasis AI Sampai ke Malaysia
Selain integrasi AI, Rika Astuti menyebutkan bahwa metode pembelajaran saat ini banyak menerapkan pendekatan Project Based Learning, di mana mahasiswa diminta membuat proyek aplikasi nyata seperti sistem informasi sekolah, aplikasi penjualan, website perusahaan, hingga aplikasi mobile. Pendekatan ini dinilai efektif karena mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami langsung proses analisis kebutuhan, desain sistem, coding, testing, hingga implementasi layaknya di dunia kerja sesungguhnya. Pemanfaatan alat kolaborasi digital seperti GitHub, GitLab, dan Visual Studio Code Live Share juga melatih kemampuan kerja sama tim, komunikasi, dan manajemen proyek profesional.
Menanggapi cepatnya perubahan bahasa pemrograman, framework, dan tools pengembangan perangkat lunak, Rika menekankan bahwa dosen pengampu dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi, seminar, penelitian, dan kerja sama dengan industri. Hal ini penting agar materi yang diberikan kepada mahasiswa selalu relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi terkini.
Ia berharap pemanfaatan teknologi yang tepat serta dukungan pembelajaran modern ini dapat membuat mahasiswa memiliki portofolio proyek, pengalaman kerja tim, serta pemahaman teknologi terbaru agar siap bersaing sebagai programmer, system analyst, web developer, mobile developer, maupun technopreneur.
"Peran dosen pengampu menjadi kunci utama dalam mengarahkan mahasiswa agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga motivator, mentor, inovator, dan pembentuk karakter. Dengan dukungan dosen yang profesional serta pemanfaatan teknologi yang tepat, pembelajaran Rekayasa Perangkat Lunak akan terus melahirkan lulusan yang kreatif, kompeten, dan siap menghadapi tantangan era digital global," tutup Rika.
BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...
Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...