Jakarta - Siapa sangka ketakutan bisa berubah jadi kekuatan? Hal itulah yang dialami Rayssa, mahasiswi Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi Cyber University yang dulu sempat “alergi” dengan coding, namun kini, ia justru menjadi pejuang di bidang keamanan siber.
Rayssa mengaku dulunya sangat tidak suka dengan segala hal yang berhubungan dengan pemrograman. Setiap kali berhadapan dengan kode atau debugging, ia merasa tertekan. Namun, seiring waktu, pandangannya berubah. “Awalnya cuma penasaran doang, kenapa akun orang bisa diretas, kok data gampang bocor. Eh, malah jadi ketagihan,” ujar Rayssa saat ditemui di kampus Cyber University di Jakarta, Senin (7/7).
Perjalanan Rayssa menuju dunia teknologi tidaklah mudah. Rasa ragu sempat menghantuinya saat memilih jurusan dan kampus. Namun ia akhirnya memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke bidang Sistem dan Teknologi Informasi di Cyber University sebagai Kampus Fintech Pertama di Indonesia dengan fokus pada keamanan siber. “Hidup ke depan makin digital, mending nyemplung sekalian,” ungkapnya.
Di Cyber University, ia menemukan lingkungan belajar yang mendukung. Selain mendapatkan materi teori, juga dibekali berbagai praktik nyata yang mengasah kemampuannya menghadapi tantangan dunia digital.
“Dosennya nggak pelit ilmu. Kalau stuck, tinggal nyamperin buat diskusi. Rasanya kayak latihan sebelum cyber war beneran,” tuturnya.
Solidaritas antar mahasiswa di jurusannya juga menjadi kekuatan tersendiri. Alih-alih bersaing secara tidak sehat, mereka saling membantu dan memotivasi, terutama saat mengerjakan proyek bersama atau menghadapi bug yang sulit dipecahkan.
Kini, setiap kali berhasil memperbaiki error atau membuat aplikasi berjalan sesuai rencana, Rayssa merasakan kepuasan tersendiri. “Menang kecil-kecilan lah, tapi bikin ketagihan,” katanya bangga.
Baca juga: Cyber University Jadi Tuan Rumah Verifikasi Pelaporan SPMI Semester I 2025 oleh LLDikti Wilayah III
Tak berhenti di situ, Rayssa memiliki mimpi besar untuk berkontribusi dalam menciptakan solusi digital yang bermanfaat bagi banyak orang, khususnya di sektor-sektor vital seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan publik. Ia juga ingin terus belajar, mendalami data science, kecerdasan buatan (AI), dan memahami lebih dalam kebutuhan pengguna.
“Hidup ke depan nggak bakal lepas dari teknologi. Kalau cuma ngikutin, kita gampang ketelan. Makanya, gue maunya ikutan bikin arah teknologinya,” tegasnya.
Transformasi Rayssa dari seseorang yang takut coding menjadi pejuang keamanan siber membuktikan bahwa ketakutan bukanlah halangan untuk maju. Dengan rasa penasaran dan tekad yang kuat, siapa pun bisa berubah dan bahkan menjadi pahlawan di era digital, kuliah di Cyber University.