Cyber University Dorong Hubungan Teknologi dan Kemanusiaan yang Seimbang di Era AI

research
  • 29 Oct
  • 2025

Cyber University Dorong Hubungan Teknologi dan Kemanusiaan yang Seimbang di Era AI

Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), Cyber University yang terkenal sebagai Kampus Fintech University in Indonesia menekankan pentingnya menjaga hubungan teknologi dan kemanusiaan agar seimbang. Dengan mengundang Wakil Direktur I Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia, Dr. Fuad Gani, dalam acara AI Summit & Mental Health yang diselenggarakan di Aula Perpustakaan Universitas Indonesia, Crystal of Knowledge, lantai 3, Selasa (28/10), Cyber University menyerukan perlunya sentuhan kemanusiaan dalam setiap inovasi teknologi.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan Dr. Fuad, bahwa teknologi tidak boleh hanya berfokus pada efisiensi dan kemajuan industri semata, tetapi juga harus menghormati hak-hak sosial masyarakat. "Ada sub-technology, yaitu tentang culture, etika, dan sisi kemanusiaan. Jangan sampai teknologi justru meminggirkan kelompok yang kurang beruntung. Bahkan dalam regulasi global, ada yang disebut hak untuk tidak menggunakan teknologi digital," ujarnya.

Baca juga: Cyber University Gaungkan AI untuk Kesehatan Mental Lewat AI Summit & Mental Health 2025

Ia mencontohkan bagaimana sistem transaksi elektronik seperti kartu tol atau pembayaran digital sering kali justru menutup akses bagi masyarakat yang belum terintegrasi dengan sistem tersebut. "Kalau orang tidak punya kartu, padahal punya uang tunai, lalu tidak bisa lewat tol, itu bentuk peminggiran. Ini bukan sekadar persoalan teknis, tapi soal hak," tegasnya.

Dalam konteks global, Dr. Fuad menilai Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan negara-negara dengan investasi teknologi besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. "Kalau bersaing dari sisi teknologi murni, berat bagi kita. Tapi Indonesia punya soul, punya budaya dan sosial tinggi. Pendekatan kita ramah, dan itu keunggulan yang bisa menjadi warna Indonesia dalam dunia digital," jelasnya.

Fuad berpendapat bahwa pengembangan AI di Indonesia seharusnya berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar mengejar kecanggihan algoritma. Teknologi harus mampu menumbuhkan empati dan memperkuat nilai sosial, bukan menggerusnya.

Baca juga: Cyber University Gaungkan AI untuk Kesehatan Mental Lewat AI Summit & Mental Health 2025

Menurutnya, kecerdasan buatan harus dikembangkan dengan prinsip keseimbangan antara akal dan rasa. Karena, teknologi ini memang memberi kemudahan, tetapi tidak boleh menggantikan kebijaksanaan dan empati manusia. "Kesejahteraan mental dicapai dengan keseimbangan antara pikiran dan perasaan, teknologi dan kemanusiaan. AI bisa memberi jawaban cepat, tapi tidak selalu benar," ucapnya.

Baginya, teknologi hanyalah alat. Yang terpenting adalah manusia yang menggunakannya dengan rasa, moral, dan tanggung jawab sosial. "Kalau teknologi dipakai tanpa nilai, ia akan menjadi alat penghancur. Tapi bila digunakan dengan etika dan empati, teknologi bisa jadi jalan kemanusiaan," pungkas Fuad.