Jakarta – Integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan harus diimbangi dengan perhatian serius terhadap kesehatan mental peserta didik. Penegasan ini muncul dalam acara AI Summit & Mental Health, di Aula Perpustakaan Universitas Indonesia, Crystal of Knowledge, pada Selasa (28/10) yang menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan dalam membentuk generasi masa depan di Era AI.
Dr. Roy Darmawan, Ketua Center for Strategik Entrepreneurial Leadership Universitas Indonesia, yang hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber menekankan bahwa perkembangan teknologi AI telah mengubah lanskap kehidupan manusia secara fundamental. Perubahan ini mencakup hilangnya lapangan pekerjaan akibat otomasi hingga transformasi cara berkomunikasi.
Baca juga: Cyber University Dorong Hubungan Teknologi dan Kemanusiaan yang Seimbang di Era AI
“Berbicara AI adalah berbicara masa depan. Kita harus adaptif dan gesit untuk menghadapi ketidakpastian, kompleksitas, dan kompetisi global,” ujar Dr. Roy. Ia mengutip pendapat dari salah satu tokoh yang menyatakan bahwa masa depan akan menjadi milik mereka yang mampu mempercayai dan mengelola perubahan cepat dengan visi dan keteguhan.
Di samping itu, Dr. Roy juga mengaitkan penerapan AI dalam pendidikan dengan isu kesehatan mental. Ia menjelaskan bahwa meskipun teknologi dapat mendekatkan yang jauh, ia juga berpotensi menjauhkan yang dekat jika tidak digunakan dengan bijak. "AI membantu banyak hal, tetapi jangan sampai perasaan dan kepedulian menjadi artificial juga. Ketulusan tetap harus ada," tambahnya.
Mengacu pada American Psychological Association (APA), Dr. Roy juga sempat menyoroti tiga indikator utama kesehatan mental, yakni penerimaan diri, pengenalan keunggulan diri, dan kemampuan membangun hubungan yang bermakna. Ia mendorong para pendidik untuk tidak hanya mengembangkan IQ, tetapi juga EQ, SQ, dan FQ (Financial Quotient) sebagai bekal bagi siswa menghadapi tantangan di masa depan.
Baca juga: Cyber University Ungkap Perjalanan Panjang AI: Dari Mesin Pintar Hingga Revolusi Digital
Dr. Roy pun menutup sesinya dengan sebuah analogi tentang tiga tukang batu yang bekerja dengan motivasi yang berbeda. Analogi ini menggambarkan pentingnya mindset positif, visi hidup, dan peran krusial pendidikan dalam membentuk generasi berkarakter di era digital. "Yang paling penting bukan sekadar masa depan itu sendiri, tetapi bagaimana kita memaknainya sebagai manusia," pungkasnya.
Cyber University sebagai The First Fintech University in Indonesia, selaku penyelenggara acara, berharap bahwa pesan ini dapat menginspirasi dunia pendidikan Indonesia untuk menghadapi transformasi teknologi tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai kemanusiaan.