Berawal dari Kampus, Startup Gipsy Research Kembangkan Layanan Riset Berbasis AI Sampai ke Malaysia

Berawal dari Kampus, Startup Gipsy Research Kembangkan Layanan Riset Berbasis AI Sampai ke Malaysia
  • 31 Jul
  • 2026

Berawal dari Kampus, Startup Gipsy Research Kembangkan Layanan Riset Berbasis AI Sampai ke Malaysia

Jakarta - Berawal dari inisiatif mahasiswa dan alumni Cyber University (Universitas Siber Indonesia), startup PT Gipsy Research Nusantara (Gipsy Research) kini berkembang menjadi platform layanan konsultasi riset berbasis teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Didirikan sejak April 2024, platform ini hadir untuk memberikan akses layanan riset yang terjangkau bagi mahasiswa, peneliti, dan profesional.

Pembentukan Gipsy Research dipelopori oleh Gregorius Peitra selaku Chief Executive Officer (CEO) bersama empat rekannya, yakni Carolus Agung, Bagas Indra Safrilla, Putriarrum Kusuma, dan Dwi Praja Agustian, alumni Cyber University sebagai “Shaping Digital Future Leader”. Kehadiran platform ini berangkat dari kegelisahan para pendiri terkait sulitnya mengakses pendampingan riset berkualitas dengan biaya yang ramah kantong mahasiswa.

Baca juga: Cyber University Dorong Mahasiswa Bangun Personal Branding agar Lulus Kuliah Cepat Kerja

Saat ini, Gipsy Research menyediakan lima layanan utama yang meliputi konsultasi riset, pengolahan data kuantitatif dan kualitatif, pelatihan ilmiah, asistensi publikasi, serta fitur inovatif Gipsy AI. Fitur berbasis AI tersebut dilengkapi lebih dari 30 alat bantu digital untuk mempermudah penyusunan proposal, visualisasi data, pencarian artikel ilmiah, hingga pengecekan plagiarisme.

Chief Executive Officer (CEO) Gipsy Research, Gregorius Peitra, menyampaikan bahwa integrasi teknologi dan kompetensi akademik menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan penelitian di era digital. Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan dirancang untuk mendampingi proses riset agar lebih efisien.

"Kami ingin hadir sebagai mitra riset yang relevan bagi mahasiswa dan akademisi. Pemanfaatan Gipsy AI merupakan komitmen kami untuk memberikan solusi modern yang efisien tanpa mengurangi integritas ilmiah," ujar Gregorius dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (31/7).

Tidak hanya dimanfaatkan oleh akademisi di dalam negeri, layanan konsultasi dan teknologi riset ini kini telah menjangkau pengguna hingga ke Malaysia.

“Perkembangan ini menandai tingginya kebutuhan akan infrastruktur pendampingan riset yang mudah diakses di kawasan regional. Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan ke berbagai lembaga pendidikan dan peneliti di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.

Baca juga: Benarkah Era AGI Sudah Dimulai? Menimbang Realitas dan Ekspektasi Kecerdasan Buatan

Langkah ini, menurutnya, diharapkan dapat mendorong terciptanya ekosistem riset yang lebih inklusif, adaptif, dan terjangkau bagi seluruh civitas akademika.

 

Berita Terkait

BRI Institute Resmi Ganti Nama Jadi Cyber University

BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...

Realita Pahit Lulus SNBP: Gratis Masuk, Tapi UKT Tetap Mencekik, Ini Solusinya!

Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...