Turnitin adalah perangkat lunak berbasis web yang digunakan untuk mendeteksi tingkat kemiripan atau plagiarisme pada sebuah dokumen teks. Aplikasi ini sangat populer di lingkungan akademik seperti sekolah dan universitas karena membantu memeriksa apakah karya tulis, mulai dari makalah, jurnal, hingga skripsi, memiliki kesamaan dengan dokumen lain yang tersedia di internet, publikasi ilmiah, maupun repositori internal Turnitin.
Bagi sebagian mahasiswa, Turnitin sering kali dianggap sebagai hal yang menegangkan karena dapat menunjukkan tingkat similarity dalam sebuah karya tulis. Di sisi lain, penggunaan berbagai sumber referensi dalam penulisan akademik merupakan hal yang wajar. Mahasiswa sering mengutip jurnal, buku, maupun artikel ilmiah untuk memperkuat argumen dan mengolah informasi yang digunakan dalam penelitian.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan similarity di Turnitin? Apakah setiap persentase kemiripan menunjukkan adanya plagiarisme? Untuk memahami jawabannya, penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana cara kerja Turnitin dalam memeriksa sebuah dokumen.
Baca juga: Ini Cara Klaim Penyimpanan Google Drive untuk Mahasiswa
Proses pemeriksaan di Turnitin berlangsung melalui beberapa tahapan yang sistematis.
Tahap pertama dimulai ketika dokumen diunggah ke sistem Turnitin. Dokumen tersebut dapat berupa makalah, artikel ilmiah, laporan penelitian, maupun skripsi yang akan diperiksa tingkat kemiripannya.
Setelah dokumen masuk ke sistem, Turnitin akan memecah teks menjadi berbagai kata dan frasa melalui proses yang dikenal sebagai tokenization. Selanjutnya, sistem akan membandingkan teks tersebut dengan tiga sumber utama.
Setelah proses pencocokan selesai, Turnitin menghitung tingkat kemiripan dokumen dengan sumber-sumber yang ditemukan. Karena judul, istilah umum, kutipan, dan daftar pustaka sering memiliki kesamaan dengan dokumen lain, skor 0% sebenarnya cukup jarang ditemukan.
Hasil pemeriksaan kemudian ditampilkan dalam bentuk Similarity Report. Pada laporan tersebut, bagian teks yang memiliki kemiripan akan ditandai menggunakan warna tertentu serta dilengkapi informasi sumber yang menjadi acuan kemiripan tersebut.
Setelah memahami cara kerja Turnitin, langkah berikutnya adalah memahami arti dari setiap kategori persentase kemiripan yang ditampilkan pada laporan.
Warna biru menunjukkan bahwa sistem tidak menemukan kemiripan yang signifikan dengan sumber lain dalam basis data Turnitin. Meski demikian, angka 0% bukan berarti dokumen pasti sempurna. Dalam praktiknya, hasil ini relatif jarang terjadi karena sebagian besar karya ilmiah tetap menggunakan istilah umum, referensi, atau kutipan yang berpotensi terdeteksi.
Kategori hijau biasanya dianggap aman oleh banyak institusi pendidikan. Persentase ini menunjukkan bahwa kemiripan yang ditemukan masih berada dalam batas wajar, misalnya berasal dari kutipan yang sudah dicantumkan sumbernya, daftar pustaka, atau penggunaan istilah akademik tertentu yang umum digunakan dalam bidang ilmu terkait.
Warna kuning menunjukkan tingkat kemiripan yang mulai memerlukan perhatian. Pada kondisi ini, dosen atau pembimbing biasanya akan meminta penulis untuk meninjau kembali bagian yang memiliki kesamaan tinggi dengan sumber lain. Revisi melalui parafrase atau penambahan sitasi yang tepat sering kali diperlukan agar kualitas akademik naskah meningkat.
Persentase pada kategori oranye menunjukkan bahwa sebagian besar isi dokumen memiliki kesamaan dengan sumber lain. Kondisi ini dapat terjadi karena terlalu banyak kutipan langsung, penggunaan referensi yang belum diparafrase dengan baik, atau adanya bagian yang masih menyerupai sumber asli secara signifikan.
Warna merah menunjukkan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Pada kategori ini, dokumen berpotensi mengandung banyak bagian yang identik dengan sumber lain. Oleh karena itu, naskah biasanya memerlukan pemeriksaan mendalam karena dapat menimbulkan dugaan adanya praktik copy-paste yang tidak sesuai dengan prinsip integritas akademik.
Memiliki persentase kemiripan tertentu bukan berarti sebuah karya ilmiah tidak layak. Namun, apabila nilainya terlalu tinggi, beberapa langkah berikut dapat membantu memperbaikinya.
Parafrase yang baik tidak hanya mengganti kata dengan sinonim. Struktur kalimat perlu diubah secara menyeluruh. Kalimat pasif dapat diubah menjadi aktif, kalimat panjang dapat dipecah menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana, dan penggunaan kata penghubung dapat disesuaikan agar lebih natural. Dengan cara ini, isi tulisan tetap sama tetapi disampaikan menggunakan gaya bahasa yang berbeda.
Daripada menyalin isi sumber secara langsung, lebih baik memahami inti informasi terlebih dahulu. Setelah memahami gagasan utama, tuliskan kembali menggunakan kalimat yang disusun berdasarkan pemahaman sendiri. Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi similarity, tetapi juga menunjukkan kemampuan analisis yang lebih baik.
Tulisan yang hanya mengulang isi sumber sering kali menghasilkan tingkat kemiripan yang tinggi. Untuk mengurangi hal tersebut, tambahkan analisis, interpretasi, atau pembahasan yang berasal dari hasil pemikiran sendiri. Penggunaan data lokal, studi kasus, atau contoh yang relevan juga dapat membuat tulisan menjadi lebih unik dan bernilai akademik.
Penting untuk dipahami bahwa yang terpenting adalah bukan angka similarity serendah mungkin, melainkan memastikan bahwa setiap sumber digunakan secara benar, disitasi dengan tepat, dan diolah melalui pemahaman yang baik. Dengan demikian, karya tulis yang dihasilkan tetap memenuhi standar integritas akademik yang diharapkan.
Di era transformasi digital, kemampuan mengelola informasi, melakukan riset, dan menghasilkan karya akademik yang berkualitas menjadi semakin penting. Salah satu institusi yang dapat dipertimbangkan adalah Cyber University (CU).
Cyber University dikenal sebagai universitas financial technology (FinTech) pertama di Indonesia yang menerapkan konsep Company Learning Program (CLP), yaitu skema 3 Tahun Kuliah 1 Tahun Magang. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman industri sebelum lulus.
Program studi yang tersedia juga dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja modern, seperti Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Sistem dan Teknologi Informasi, Bisnis Digital, serta Kewirausahaan. Bidang-bidang tersebut memiliki relevansi tinggi dengan perkembangan teknologi dan ekonomi digital saat ini.
Bagi yang sedang mencari perguruan tinggi dengan fokus pada pengembangan kompetensi digital sekaligus pengalaman industri, Cyber University dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang layak dipertimbangkan.
BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...
Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...