Alih-Alih Tutup Prodi, Akademisi Dorong Reformasi Kurikulum dan Lapangan Kerja

Alih-Alih Tutup Prodi, Akademisi Dorong Reformasi Kurikulum dan Lapangan Kerja
  • 20 Jul
  • 2026

Alih-Alih Tutup Prodi, Akademisi Dorong Reformasi Kurikulum dan Lapangan Kerja

Jakarta - Sejumlah akademisi mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi kurikulum dan memperluas lapangan kerja ketimbang menutup program studi (prodi). Wacana penutupan prodi ini sebelumnya bergulir karena dinilai memicu tingginya angka pengangguran terdidik akibat ketidaksesuaian lulusan dengan kebutuhan industri.

Pemerintah, sebelumnya berencana menutup beberapa prodi karena dinilai mengalami kelebihan pasokan (oversupply) lulusan. Kebijakan tersebut menuai tanggapan kritis, terutama terkait dampaknya bagi keberlangsungan dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Baca juga: Cyber University Gandeng BEI dan Phillip Sekuritas Tingkatkan Literasi Investasi

Kepala Career Center Cyber University, Dr. Anang Martoyo, menilai penutupan program studi bukanlah jalan keluar utama untuk mengatasi masalah pengangguran terdidik. Menurutnya, kualitas lulusan masih sangat bisa ditingkatkan tanpa harus menghilangkan bidang keilmuan tertentu.

"Permasalahan utama bukan pada prodinya, melainkan pada relevansi kompetensi lulusan. Ini bisa diperbaiki melalui pembaruan kurikulum dan peningkatan kualitas pengajaran secara berkala," ujar Dr. Anang saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/7).

Dr. Anang menambahkan, rencana penutupan prodi justru dikhawatirkan akan memicu dampak sosial dan ekonomi baru yang merugikan. Kebijakan radikal ini berpotensi mengganggu nasib para dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa yang saat ini sedang aktif menempuh masa studi.

Selain pembenahan internal kampus, pemerintah juga didorong untuk aktif menciptakan lapangan kerja baru yang bervariasi. Kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri menjadi kunci agar lulusan lebih adaptif terhadap dinamika pasar kerja yang cepat berubah.

"Pada akhirnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak bisa dilakukan secara instan dengan membatasi akses pendidikan. Kebijakan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang dinilai jauh lebih konstruktif untuk menjawab tantangan masa depan bangsa," jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa Cyber University Bangun API Gateway di Bursa Berjangka Jakarta

Ia menjelaskan, di Cyber University punya Company Learning Program (CLP) 3+1. Di mana mahasiswa belajar 3 tahun di kelas dan 1 tahunnya magang. Hal tersebut menjadikan lulusan Cyber University banyak yang langsung terserap dunia kerja secara langsung.

"Lewat CLP 3+1 di Cyber University, membuka lebar pintu mahasiswa langsung masuk industri. Jadi sebelum lulus pun banyak yang sudah kerja," tutup Dr. Anang.

Berita Terkait

BRI Institute Resmi Ganti Nama Jadi Cyber University

BRI Institute kini secara resmi telah berubah jadi Universitas Siber Indonesia Pratama atau lebih dikenal 'Cyber University'. Kampus ini mempunyai mis...

Realita Pahit Lulus SNBP: Gratis Masuk, Tapi UKT Tetap Mencekik, Ini Solusinya!

Jakarta - Euforia kelulusan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini memang sudah berlalu sejak pengumuman sebulan yang lalu. Namun, ken...